Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘social’

Hi you! Long time no see! A very common greetings from me, I suppose  J  Busy (pretend to), as always.

Last Wednesday and Thursday, I attended a “Regional dialogue on election accessibility for persons with disabilities“. Interesting, right? Nah, do not be too skeptical whenever the word “election” appears. It relates more about human rights instead of politics. Anyway, I would not talk about it further.

Regardless the interesting presentations, unexpectedly, I have met a friend whom I did not in touch with for 2 years; colleagues, whom I did not meet for at least a year; and a person whom I made contact with but never meet in person. This gives a proof that no matter what, the circle among people who work or have interest within specific topic is ain’t that big.

We relate one another, somehow.

However, in the big ballroom of an international four-star-hotel, my eyes could not be helped, to not observe with interest to a person. She is one of the official photographers for the event. Just like what good photographers shall do, she vastly moved capturing moments. She sensed attractive situation. Tried her best to not miss anything.

Indeed. She is “just an ordinary” persistent photographer.

Then, why my eyes did that way? Intuition never failed me.

(more…)

Read Full Post »

(while dragging the television box into the security check and lift) “There are taxies in the lobby”

(smiling) “But this lift can go directly to the basement too right?”

“ooh yes, the parking lot for motorcylces is at the basement second floor”

(smiling again)

Those conversation happened when my boyfriend and me bought a television. Obviously the salesman thought that we were a young couple (although we are not that young) who use public transportation. Or even if we went there with personal transportation, it would be a motorcycle. In other words, he did not (or does not?) classify us as “worth” enough to use any private car. Well, he did not wrong totally as we used the car from the company. We did not feel bothered too as the salesman did not say those words with negative expression as all of us might see on how the saleswomen/men in the sort-of-exclusive stores do. Well, we experience this sort of behaviour several times so it would not be that surprising anymore. We even observe this.

Afterwards, we laughed and smiled. We even still laugh on that event whenever we remember. It is understandable why he said that way. We wore polo shirts, jeans and sandals. We spent around half an hour only to think which kind of television that we will buy, of course, with making  comparison on prices and benefits. It might be too long for him. As the televisions that we were compared are not the luxurious ones (not those with eight digits Rupiahs). The standard ones! He might think that, “Gosh, they think that long only to buy this one standard television“. Social expectations.

A friend said to me, that whenever she go to department stores with her friends, they always play a little game. “The perfume sample” The game is very simple, whoever be offered of a piece of paper contains sprayed fragrance means that she is the one who wear clothes “properly”. That she is the targeted consumer.

(more…)

Read Full Post »

Dua minggu yang lalu adalah 81 tahun Sumpah Pemuda [dan Pemudi]. Saat itu, mereka mengucapkan janji setia terhadap negeri ini. Ikrar bahwa bangsa ini harus bersatu. Ikrar bahwa walau perbedaan itu ada, dua persamaan tetap ada. Satu tanah air dan satu bangsa. Selanjutnya, diwujudkan dengan memiliki bahasa persatuan.

Tujuh belas tahun setelahnya, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Apakah artinya negara ini merdeka setelah ‘dianggap’ dewasa dalam mempersatukan perbedaan yang ada?! Bahwa persatuan itu tidak berarti harus satu warna, namun dengan berbagai warna, mencapai suatu harmoni? Mengingat, perjuangan kemerdekaan tidak terpusat di satu titik saja. Setiap daerah, dengan pimpinan tokoh setempat, dengan kearifan budaya setempat, dengan persatuan diantara warga set

empat tanpa mempertanyakan asal muasal, bersama-sama berjuang melawan penjajahan.

Semuanya bergerak demi tujuan yang satu, bukan ‘seragam’ yang sama.

Indonesia Press Photo Service

Bung Tomo oleh Alex Mendur

Proklamasi kemerdekaan tidak menyebabkan para penjajah menyerah begitu saja. Mereka memperjuangkan apa yang dianggap menjadi hak miliknya. Salah satu akibatnya, terjadilah pertempuran 10 November. Singkat cerita, pertempuran ini merupakan perlawanan melawan kolonial Belanda yang menumpang tentara sekutu untuk kembali menguasai Indonesia. Entah atas nama harga diri atau memang negara ini terlalu kaya. Jelas tindakan mereka mengancam kredibilitas bangsa. Oleh karenanya, sekali lagi, pemudi-pemuda [dan rekan] berjuang mempertahankan kedaulatan. Intervensi ini berhasil membuat perbedaan pendapat mengenai status kemerdekaan Indonesia di kancah internasional, saya membaca di sebuah museum di Australia yang menyatakan Indonesia merdeka pada tahun 1949. Apapun, intervensi ini ‘menghasilkan’ perjuangan yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawa nuntuk mengenang persatuan Rakyat Indonesia, setidaknya di Surabaya.

Dua puluh satu tahun setelahnya, 1966, terjadilah perlawanan terhadap otoriterisme. Sungguh disayangkan, terutama mengingat beliau termasuk tokoh pejuang kemerdekaan, pendiri dan bahkan berperan penting dalam memperkenalkan bangsa baru ini ke dunia. Saya kurang paham sebenarnya mengapa seorang pejuang yang membenci penjajahan berubah menjadi sosok yang berpotensi ‘menjajah’. Entah benar atau tidak, setidaknya begitulah yang dipersepsikan oleh pelajaran sejarah. Sungguh saya tidak mengerti alasan dibalik tindakan beliau ini, termasuk ‘kisah akhir’ kepemimpinannya yang kronologisnya tidak terlalu jelas.

Setelahnya, pembangunan terjadi secara simultan. Gedung-gedung pencakar langit nan megah hadir di kota-kota besar.Sayangnya, pembangunan ini terpusat dan tanpa sistem tata kota yang baik. Entah bagaimana, pemimpin bangsa ini terjerat hal serupa dengan pendahulunya. Penjajahan kembali muncul dalam tampilan baru. Eksistensi rakyat tidak lebih dari sekedar pion catur, tergantung pada perintah [yang merasa] grandmaster. Sejarah pun kembali terulang. Tokoh otoriter digulingkan oleh kekuatan rakyat setelah 32 tahun. Reformasi pun terjadi.

Hari ini, lebih dari 11 tahun setelah reformasi dimulai, keadaan tidak jauh berbeda. Ancaman baru pun muncul. Media massa tanpa henti memberitakan kisah epik antar institusi di negeri ini, yang semakin mendekati kisah drama. Tak sekedar disisipi kejutan dan ‘kejutan’, muncul pula panggung untuk atraksi hewan. Entah pihak mana yang harus tersinggung, sang manusia yang dianimalisasikan, atau sang hewan yang dipersonifikasikan secara negatif.

(more…)

Read Full Post »