Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘politics’

Pemilukada 2012 ini adalah sesuatu yang spesial bagi saya. Pemilukada ini, mungkin menjadi titik awal pemahaman yang lebih baik akan hak politik. Tentu dipengaruhi oleh sarana komunikasi dan informasi yang semakin baik. Akses internet juga membuka era keterbukaan dan, semoga, pemahaman yang lebih terbuka juga. Selain itu, saat ini sedang mengerjakan penelitian mengenai aksesibilitas Pemilu bagi penyandang disabilitas, yang tentunya semakin memamparkan berbagai aspek dari hak politik terutama Pemilu. Akibatnya, ini adalah kali pertama saya benar-benar menelusuri para kandidat. Pertama kalinya saya menghargai krusialnya hak suara tersebut.

Sebelumnya?

Tidak berarti bahwa saya sering golput, tetapi penjelasan Tempo disini, memang menggambarkan keputusan saya untuk pernah golput. Saya tidak melihat adanya perbedaan antara memilih dan tidak memilih. Tidak melihat adanya pengaruh satu suara terhadap kehidupan sehari-hari. Bahwa pemenang selalu dari kelompok “si kuat”, “si banyak”, “si kaya” dan seterusnya. Ditambah masih memiliki pemikiran bahwa politik itu hal yang terlalu rumit untuk dipahami oleh orang awam seperti saya. Saya tidak paham bagaimana yang tadinya berseberangan kemudian karena kepentingan politik, perbedaan itu langsung dipoles sedemikian rupa agar menjadi sama. Ah sungguh membingungkan dan jadi merasa enggan untuk repot-repot mencari tahu lebih lanjut? Biarlah saja mereka yang bertanding.

Lalu kenapa sekarang?

Ada beberapa hal sebenarnya. Pertama, saya semakin jengah dengan kehidupan di Jakarta. Jakarta yang semakin macet. Jakarta yang semakin tidak ramah. Jakarta yang semakin tidak jelas. Ya, saya katakan tidak jelas. Saya tidak dapat memahami bagaimana pelanggaran-pelanggaran yang jelas merupakan pelanggaran masih tetap berjaya.

Contoh?

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Kemanusian itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-susul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan, dan cara hidupnya, semuanya merupakan satu keluarga besar

Itu merupakan salah satu prinsip yang mungkin paling hakiki diantara berbagai prinsip lainnya. Mari kita coba lihat dari perspektif agama, salah satu prinsip hakiki lainnya terutama di bangsa timur. Sudah jelas, tidak ada hal yang dibenarkan oleh agama jika hal tersebut melanggar kemanusiaan. Demikian juga dengan spiritualitas.

Betul kan?!

Pendapat itu ditekankan berulang kali baik secara langsung maupun tidak dalam film SOEGIJA mengenai Mgr. Soegijapranata, SJ. Bahwa kemanusiaan adalah satu, terlepas dari berbagai jenis atribut lainnya seperti agama dan suku. Bahwa bangsa ini berdiri dengan dukungan dari segenap pihak, dari berbagai lapisan dan golongan.

Bhinneka tunggal ika?

Konsep yang luar biasa. Sering saya terkagum dengan intelektualitas dan visi dari para pendiri bangsa ini. Betapa luas pemahamanan para beliau tersebut. Padahal pada era tersebut, akses informasi sangat jauuuuuh lebih terbatas. Mungkin justru karena itu, informasi yang tersedia juga lebih sahih dan untuk mencari dan memahaminya membutuhkan komitmen yang lebih. Tidak seperti sekarang, ingin tahu mengenai sesuatu, tinggal online dan berselancar ke wikipedia.

Tetapi, beberapa tahun terakhir ini, saya jadi mempertanyakan makna semboyan tersebut. Entah siapa yang memicu pertanyaan ini. Apakah pemaknaan dari semboyan ini? Apakah semboyan ini mengatakan bahwa berbagai perbedaan yang ada, perlu disatukan? Jika demikian, mengapa tidak boleh berbeda? Apakah memang keseragaman yang diharapkan?

(more…)

Read Full Post »

On the day of my graduation, one of the speaker had speech that it is extremely important to have community. It means to join good professional association(s). I remember it very well, although until now I still haven’t found the right association yet. There are a few associations on social research or development or similar to those. However, they were overseas. Many interesting associations are even not only based on interest but also restricted in specified geographic areas.

I would not be mind to join one or two of those. But, I am currently seeking for more “local” ones. Either in the regional or the country. It is because I would like to extend my network! To learn from others’ experiences, to hear and share, to associate one another. I still highly value the real discussion although I am grateful with the online ones. I like to put a face on a name! (more…)

Read Full Post »

During hard times, people always say “move forward” no matter on what kind of situation. Many other “formal” quotations will be said. Even for the people in the hard times themselves, they would look for those quotations too. Indeed, these are important to boosting back the courage and spirits to live.

Sometimes, sharing does matter too. To understand that others have problems –either bigger or smaller– is important. Not in the meaning that we hope that there are people with bigger problems to feel lucky. It is simply to know that all of us, no matter what, have different issues.

However, how if nothing works? That no quotations help, no sharing sessions can cure.

(more…)

Read Full Post »

It has been twelve years. Yesterday, I wrote and have published – [hurts, yet ought not to be forgotten] what I saw and experience on that day. I described what were happened on that day, according to me. It is based on my own experiences. Last year, I also have expressed what I think about the same day. The post is in Bahasa that is titled [amnesia kolektif] – collective amnesia. I argue how people and the nation, seem to get used to forget the past. No matter how barbaric, there is a tendency amongst people to ‘let we forget’.

After these years, there is still no further explanation on what really happened according to the government. There was a Joint Fact Finding Team – Tim Gabungan Pencari Fakta. This team tried to get the facts and they even have made recommendations. The report can be attained at Semanggi Peduli. They did it greatly, though they were only given  a three-months working period. They have put the numbers of victims, yet I believe that the iceberg phenomenon does apply. They said that the first-hand-victims were lots of Chinese Indonesians, though were not the only. Lots of loss. Kidnapped people. They have recommended that the government needs to continue the investigation to get details including the real intention and who were responsible. Unfortunately, I have no idea how the government reacts to this report.

I understand that to reveal any barbaric events would be hard as look for a tiny needle in a haystack. I understand that the barbaric events couldn’t be helped as it was – might – highly related with the most current politics situation. The chaotic situation. I understand that it would be harder for the victims to re-open their old wounds. I also understand that there is a myth – including amongst Chinese Indonesians – that people should go forward and forget the past. That no matter how hurts they were, they should move forward, continue their lives.  Indeed, related with the commonly spoken quote: ‘the show must goes on’.  I even could understand, though it would be hard, if the key sources have been died for sometimes. Well, in twelve years, things might have happened.

To reveal the facts, will never be an easy job.Never ever will be. Especially if the facts are in the past. We might see how hard and how long that be needed by historians. So, I couldn’t agree with what I read last two days. There was a Minister who said that ‘it is a bit difficult’ as the reason to ‘no longer look for May riots culprits’.

(more…)

Read Full Post »

It has been twelve years ago, yet the pictures are still clear on my mind. If there is a high-tech projector which could directly projects those pictures from my brain, I believe it would be shown such a documentary film. I remember how my headmaster with no detail explanations directed us to go home early. It created quite a chaos. As she said that would be better to go home together with friends. Go home as soon as possible, as safe as possible. Ah ya, important to be noted, I went to a all-female-school and mobile phones were so luxurious.

At that time, I was used the shared-transportation with friends. Was confused, should I wait or go with ‘available’ transportations?! I chose the available transportation, friends who had been picked-up. I chose the one that would drop a friend in Pondok Indah, the nearest location to my house – compared to other choices. I forgot what really happened on our way, I remember how we got so terrified though we couldn’t understand what are happening. We thought that it was related with the killed university students two days earlier and the demonstration at the legislative area. That it was related with the politics. But we couldn’t really understand why.

I sensed that my identity as a Chinese-Indonesian woman might put me on risk. Since I was a girl, I have been realized that there are differences to be ‘coincidentally’ born as a Chinese in Indonesia. Was too naïve to understood the history and the politics. Yet, I hate whenever some people called me ‘amoy’ [which after sometimes I understand that it is a way to call a Chinese girl] or ‘Cina’ [Indonesian translation of China or Chinese people with highly consists of prejudice]. Couldn’t understood yet I never asked. Well, my friends, who actually come from different ethnics, never had problems related with my ethnic. It might because of the well-education parents [well-educated people do not associate with high education level], together with how naïve children are. Do not care about politics of power.

It hurts to remember, yet it ought not be forgotten

Back to May the 14th.

So I went off at Pondok Indah, it is around 20 minutes – without traffic way – to my home. Together with a Moslem friend, we headed to her aunt’s house. Yet as the house is only nearby Pondok Indah, we walked through a small street behind the residential complex. We could reach the house through the big street yet we’d suggested to not to. ABut we didn’t have other choices when the small street is ended, we should walk passed the big streets. I remember that we heard the scream and like-riots-related-sound. We went back to another way to hide. (more…)

Read Full Post »

Dua minggu yang lalu adalah 81 tahun Sumpah Pemuda [dan Pemudi]. Saat itu, mereka mengucapkan janji setia terhadap negeri ini. Ikrar bahwa bangsa ini harus bersatu. Ikrar bahwa walau perbedaan itu ada, dua persamaan tetap ada. Satu tanah air dan satu bangsa. Selanjutnya, diwujudkan dengan memiliki bahasa persatuan.

Tujuh belas tahun setelahnya, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Apakah artinya negara ini merdeka setelah ‘dianggap’ dewasa dalam mempersatukan perbedaan yang ada?! Bahwa persatuan itu tidak berarti harus satu warna, namun dengan berbagai warna, mencapai suatu harmoni? Mengingat, perjuangan kemerdekaan tidak terpusat di satu titik saja. Setiap daerah, dengan pimpinan tokoh setempat, dengan kearifan budaya setempat, dengan persatuan diantara warga set

empat tanpa mempertanyakan asal muasal, bersama-sama berjuang melawan penjajahan.

Semuanya bergerak demi tujuan yang satu, bukan ‘seragam’ yang sama.

Indonesia Press Photo Service

Bung Tomo oleh Alex Mendur

Proklamasi kemerdekaan tidak menyebabkan para penjajah menyerah begitu saja. Mereka memperjuangkan apa yang dianggap menjadi hak miliknya. Salah satu akibatnya, terjadilah pertempuran 10 November. Singkat cerita, pertempuran ini merupakan perlawanan melawan kolonial Belanda yang menumpang tentara sekutu untuk kembali menguasai Indonesia. Entah atas nama harga diri atau memang negara ini terlalu kaya. Jelas tindakan mereka mengancam kredibilitas bangsa. Oleh karenanya, sekali lagi, pemudi-pemuda [dan rekan] berjuang mempertahankan kedaulatan. Intervensi ini berhasil membuat perbedaan pendapat mengenai status kemerdekaan Indonesia di kancah internasional, saya membaca di sebuah museum di Australia yang menyatakan Indonesia merdeka pada tahun 1949. Apapun, intervensi ini ‘menghasilkan’ perjuangan yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawa nuntuk mengenang persatuan Rakyat Indonesia, setidaknya di Surabaya.

Dua puluh satu tahun setelahnya, 1966, terjadilah perlawanan terhadap otoriterisme. Sungguh disayangkan, terutama mengingat beliau termasuk tokoh pejuang kemerdekaan, pendiri dan bahkan berperan penting dalam memperkenalkan bangsa baru ini ke dunia. Saya kurang paham sebenarnya mengapa seorang pejuang yang membenci penjajahan berubah menjadi sosok yang berpotensi ‘menjajah’. Entah benar atau tidak, setidaknya begitulah yang dipersepsikan oleh pelajaran sejarah. Sungguh saya tidak mengerti alasan dibalik tindakan beliau ini, termasuk ‘kisah akhir’ kepemimpinannya yang kronologisnya tidak terlalu jelas.

Setelahnya, pembangunan terjadi secara simultan. Gedung-gedung pencakar langit nan megah hadir di kota-kota besar.Sayangnya, pembangunan ini terpusat dan tanpa sistem tata kota yang baik. Entah bagaimana, pemimpin bangsa ini terjerat hal serupa dengan pendahulunya. Penjajahan kembali muncul dalam tampilan baru. Eksistensi rakyat tidak lebih dari sekedar pion catur, tergantung pada perintah [yang merasa] grandmaster. Sejarah pun kembali terulang. Tokoh otoriter digulingkan oleh kekuatan rakyat setelah 32 tahun. Reformasi pun terjadi.

Hari ini, lebih dari 11 tahun setelah reformasi dimulai, keadaan tidak jauh berbeda. Ancaman baru pun muncul. Media massa tanpa henti memberitakan kisah epik antar institusi di negeri ini, yang semakin mendekati kisah drama. Tak sekedar disisipi kejutan dan ‘kejutan’, muncul pula panggung untuk atraksi hewan. Entah pihak mana yang harus tersinggung, sang manusia yang dianimalisasikan, atau sang hewan yang dipersonifikasikan secara negatif.

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »