Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘mass media’

On last days of 2010, I have an interesting experience in Indonesia. Many Indonesians shout out loud on their social network accounts, “Garuda di dadaku – Garuda in my heart”. A symbol of the proudness amongst Indonesians. Where the euforia comes from? Nah, it is not for the Independence Day. Nor the National Awakening Day. Nor the Youth Pledge Day. Not even the Pancasila Sanctity Day. Sooo??!!

It is because of Indonesia’s National Soccer Team!

The euforia of being the winner candidate, was very huge. All of sudden, the National Jersey is being the most wanted thing. Many, many, many people wear that jersey. Quite “odd” as usually people wear other countries’ jerseys who have won world cups. Pathetically, the players become public figures in infotaiment mass media!!!

I always raise my eyebrow whenever sportmen and sportwomen put too much time on infotaiment things.True, that media is important to raise awareness, so that many people aware what have been achieved. Yet, it would not help to achieve the real goals! Well, unless the goal is to be popular!???!

The result?

We lost on the first match of the final. Regardless, the rotten tricks that the opponent’s supporters did, the team did not play with their best capabilities! I against those rotten tricks as I always consider things like that belong to those with lack of capabilities! Yet, I also unfavour with the idea to revenge. Simply because it would mean that we are just like them!

Anyway, the team suceeded to revenge on the second match. We won the match, yet not be the winner. The good thing is that the team did not give up easily! And also due to sportmanship of the supporters who did not take revenge.

Yet, the greatest thing is that, this time, almost all Indonesians go into one voice!  (more…)

Advertisements

Read Full Post »

None of us loved to be ignored. None of us would not want to be taken care of. As a being who has been blessed with feelings, we will always looking for comfort and safetiness. We will always seek for love.
We will always seek for affection. I believe this is the foundation in every kind of relationship. So basic.

Whenever we feel be loved, no matter how hard life could be, we will get the courage and strength. No matter how difficult the situation is, love remains. Indeed, the power of love might sounds so patethic. Yet, it so true.
That love can be the reason to live and to die. Love can be the source of laughter, but also the tears.
Double-edged sword.

So, what would happen if we have not feel that we are beloved while we are facing huge problems? What would we feel, think and do? Would we still have the strength to live? The spirit to keep on struggling and fighting? Would we still be sane?

Well, I might not.

(more…)

Read Full Post »

During hard times, people always say “move forward” no matter on what kind of situation. Many other “formal” quotations will be said. Even for the people in the hard times themselves, they would look for those quotations too. Indeed, these are important to boosting back the courage and spirits to live.

Sometimes, sharing does matter too. To understand that others have problems –either bigger or smaller– is important. Not in the meaning that we hope that there are people with bigger problems to feel lucky. It is simply to know that all of us, no matter what, have different issues.

However, how if nothing works? That no quotations help, no sharing sessions can cure.

(more…)

Read Full Post »

Pendidikan jelas merupakan hal yang sangat penting. Tidak hanya bagi individu yang bersangkutan namun juga mereka di sekitarnya ataupun tingkatan yang lebih luas lagi. Selain itu, bila pendidikan tidak penting, mengapa topik pendidikan gratis dan merata terus menerus menjadi janji-janji politis di setiap PEMILU? Pendidikan selalu menjadi agenda politik di berbaga negara.

Bagi saya pendidikan tidak sekedar urusan sertifikat. Setuju, selembar kertas panjang itu memang mampu berbuat banyak. Misalnya memperoleh pekerjaan yang lebih baik walaupun tidak selalu berarti selalu lebih tinggi gajinya; dan kenaikan pangkat. Sertifikat itu membuka kesempatan, yang seharusnya, lebih luas lagi. Namun sudah tentu, tidak hanya itu.

Hal yang paling penting dari pendidikan adalah pembentukan pola pikir. Sarana untuk membuka cakrawala, bahwa dunia itu tidak sekedar keluarga ataupun tetangga di RT ataupun RW. Bahwa selalu ada kelompok lain, asing dan mungkin baru diketahui keberadaannya. Bahwa kelompok-kelompok yang asing itu memiliki pola pemikiran dan ide-ide yang mungkin tidak hanya berbeda namun bertolak-belakang. Atau malahan mereka yang berbeda tadi memiliki  kesamaan visi-misi dan apapun itu namanya. Bahwa definisi kelompok, sama atau berbeda itu memiliki berbagai aspek, tidak melulu perbedaan fisik atau label-label yang tertera secara eksplisit atau implisit di KTP. Demikianlah pendidikan dapat diperoleh dari berbagai tempat, tidak melulu institusi pendidikan. Institusi perusahaan atau berbagai organisasi atau bahkan ‘sekedar’ pembicaraan antar teman.

Pendidikan yang baik, seharusnya menjadi jembatan yang baik antara perbedaan yang ada. Betul, jembatan. Pernahkah melihat jembatan yang hanya berada di satu sisi? Aspek fungsional dari sebuah jembatan adalah menyambungkan sisi yang berbeda. Penghubung dari dua sisi yang berbeda, berseberangan ataupun terhalang oleh hal-hal yang dapat membahayakan [laut misalnya].  Demikianlah saya memahami perbedaan. Segala jenis perbedaan itu memang tidak akan pernah dapat disatukan atau dihilangkan. Hal yang mungkin dilakukan adalah menjembatani.

Wujudnya? Salah satunya adalah pembentukkan forum untuk diskusi dalam konteks untuk memahami konsep dari sisi 1, 2, 3 dan seterusnya. Forum yang tujuannya bukan untuk melakukan doktrinisasi bahwa sisi lainnya itu salah besar. Bukan pula untuk memaksakan kehendak, bahwa hanya pemahaman yang itulah sebagai satu-satunya yang benar. Bahwa mungkin, ada kebenaran dari pemahaman lainnya, hanya melihat dari pola pandang yang berbeda. Atau andaikatapun ada yang salah pemahaman, berarti forum-forum inilah yang memberikan pemahaman yang lebih pas. Lagi-lagi, bukan melalui pemaksaan.

Pemaksaan hanya akan berakhir pada ketidaknyamanan dan/atau pembodohan.

Sarana lainnya adalah melalui komunikasi lintas media. Media-media cetak dan elektronik mampu memberikan fasilitas yang tidak mampu digapai oleh forum diskusi tadi. Keberadaan forum mengharuskan para peserta untuk turut serta secara nyata. Kehadiran secara fisik jelas sangat terkait dengan ketersediaan waktu, transportasi dan dana. Media massa mampu menggapai berbagai pihak, praktis tak terbatas. Apalagi setelah ada internet! Forum pun dapat dibentuk secara maya, berbagai komunitas pun muncul. Apabila forum pun berhasil diciptakan melalui dunia maya, apalagi karya tulis? Berbagai jenis versi online dari media cetak dapat kita akses melalui internet. Bukanlah hal yang sulit untuk memperoleh informasi apa yang terjadi di belahan benua lainnya. Berbagai jenis informasi, pendapat dan kisah dapat diperoleh dalam waktu singkat dan biaya relatif murah.

Masyarakat di berbagai negara mulai sibuk mempersiapkan diri dengan piranti membaca secara praktis seperti e-book dan kindle. Indonesia? Wah, kita malahan masih diragukan kemampuannya untuk membedakan apa yang layak dan tidak layak dibaca.

Selected information - Frank & Ernest by Thaves

Mungkin ini terkait dengan kebiasaan untuk menggunakan seragam. Kebiasaan untuk melihat bahwa pertentangan dan perbedaan merupakan hal yang perlu dibentuk ulang, secara paksa bila perlu, agar menjadi sama atau paling tidak serupa. Sungguh heran, karena Indonesia menganut paham demokrasi. Bukankah seharusnya yang disebut dengan demokrasi itu berarti menjunjung kebebasan berpendapat? Bukankah itu artinya memberikan ruang aspirasi? Aneh memang, ternyata ada pemahaman lain dari istilah demokrasi.

Parahnya lagi, kebebasan berpendapat itu sendiri yang beberapa kali terancam secara sengaja ataupun tidak. Penangkapan dan penculikan mereka yang bersuara sumbang terjadi disana sini. Kesemena-menaan terjadi terhadap mereka yang menyatakan pendapat.

Tidak hanya itu, bahkan mereka yang berusaha menyatakan kebenaran ataupun sekedar memperjuangkan haknya, malah menjadi ‘sasaran tembak’.

Bahwa mereka tak lebih dari sekedar nada yang mengganggu keharmonisan sebuah orkestra.

(more…)

Read Full Post »

Dua bulan sudah saya kembali menghadapi kemacetan dan kebisingan lalu lintas ibu kota. Dua bulan lebih pula saya tidak produktif menulis. Dua bulan yang terasa berjalan dengan sangat cepat. Cukup banyak kejadian dan observasi yang sebenarnya bisa dijadikan topik. Tapi… Seperti yang pernah saya sebutkan ke seorang kawan, derasnya informasi disertai teriknya cuaca telah membuat saya pening.

Ya! Pening!

Dari kesibukan kota ini pun sudah terasa pening. Lalu lintas yang semakin padat, diiringi dengan gaya jagoan para pengemudinya. Sempat timbul pertanyaan, apakah ada toko serba ada yang menjual nyawa cadangan? Atau memang sudah sedemikian penatnya kehidupan? Jangankan tata krama, aturan yang jelas pun tidak dipedulikan.

Kesenjangan sosial yang semakin besar, merek-merek terkenal atau bahkan baru dikenal namun langsung mentereng. Pembangunan tempat perbelanjaan yang seakan adu hebat dan adu mewah walaupun disekitarnya tetap pemukiman kumuh. Kendaraan-kendaraan mewah lalu lalang melintasi anak-anak yang besar di jalanan dengan muka mengiba sebagai penglaris dagangannya.

Kekisruhan ini ternyata tidak cukup disitu saja.

Ketika membuka lembaran media cetak, menyalakan media elektronik… Topik yang paling utama bukanlah masalah-masalah seperti tadi. Mungkin karena sudah ‘sewajarnya’ sehingga tidak laris ‘dijual’. Toh sudah demikian adanya, mungkin, memang tak akan berubah.

Topik paling utama yang diangkat adalah masalah politik. Sidang demi sidang, semakin banyak sidang semakin banyak alokasi dana. Perdebatan dan komentar yang kadang sangat tidak layak dilakukan oleh orang-orang yang katanya kaum terdidik, terpilih dan pemimpin. Tak heran bila lalu sikap mereka yang dipimpin pun tidak lebih baik, wajar bukan?! Demonstrasi sebagai wujud demokrasi dan kebebasan berpendapat diartikan bebas berkuasa.

Sementara itu, selaluuu aja ada mereka yang bersuara sumbang. Selalu ada yang mengatakan

‘ah kamu bisa apa?’

‘ngomong aja gampang’

‘ayo ikut mengubah jangan banyak comel’.

Ah membingungkan memang! Mungkin memang belum mampu ya menerima perbedaan. Atau mungkin memang terdidik dengan melihat hanya hitam dan putih dalam semua hal. Ah tapi hipotesa terakhir tampaknya kurang tepat. Bila memang melihat ‘hanya’ hitam dan putih, seharusnya urusan lalu lintas tadi tidak terjadi donk?!

(more…)

Read Full Post »

Born to amuse, to inspire, to delight. Here one day. Gone one night [from the song: Gone too soon].

I am not a big fan of him, but I am also not the big hater. I read and heard a lot of news about him, but could not say much about him. I even couldn’t really believe all the accusations that ever made toward him but I also could not say that the entertainment journalists were only focused on capital funds. I could not say anything…

As the child of 80s’, I grow up with his songs. His status as a megastar has been defined during my childhood, when I even didn’t understand that term. I was a nerd as I did not have good access on music. However, I have the Dangerous album and admire the “Heal the World” song. I heard that frequently until the cassette was broken. Years, I tried to find the album but could not find it. It was also because of my uncommitted intention.

And this morning.. The very first thing that I watched was the affirmation about his death. The death of Michael Jackson. For others, today is the King of Pop has died. For me, one of some figures of my life has died. As I mentioned before, I grow up with his songs.

Even when I was a little child, I can understand the spirit of “heal the world”*.

Think about the generation. Says we want to make a better place for children and the children’s children. And so that, they know that there is a better world for them. And think they can make it a better place. [A child in the song of Heal the World by Michael Jackson in the album of Dangerous].

(more…)

Read Full Post »

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang

Bebaskan suara konsumen. Bebaskan opini publik.

Bebaskan suara konsumen. Bebaskan opini publik.

Idiom ini menunjukkan betapa setiap dari kita ingin untuk meninggalkan “jejak eksistensi”. Lingkupnya sangat luas, istilahnya pun beragam. Para pemimpin dunia berjuang untuk meninggalkan legacy, misalnya bagaimana para Bapak (dan Ibu) Bangsa ini berhasil membangun sebuah negara berpenduduk ratusan juta dengan berbagai perbedaan yang ada. Atau manusia sebagai individu, sadar maupun tidak, ingin untuk dapat meninggal dengan tenang. Tentu hal ini termasuk dalam berbagai hal terkait dengan permasalahan-permasalahan yang belum terselesaikan, meninggalkan nama baik.

Atas nama ini jugalah, Alfred Nobel mengalokasikan sebagian besar dari kekayaannya untuk “menciptakan” Nobel Prizes dalam wasiatnya. Banyak yang percaya ini merupakan kompensasi dari rasa bersalahnya, terhadap hasil karya yang membuat dirinya terkenal dan memberikan sejumlah loyalti, yaitu dinamit. Agar dirinya dikenang, tidak hanya sebagai penemu salah satu cikal bakal pembunuh massal (yang tentunya tidak terpikirkan sebelumnya), namun juga sebagai individu yang berusaha menjadikan dunia ini lebih baik.

Seiring dengan berjalannya ilmu pengetahuan dan pembentukan berbagai komunitas hingga negara, semakin dirasakan pentingnya suatu tatanan yang menjaga perilaku kehidupan bermasyarakat. Etika berlandaskan norma-norma yang sebenarnya sudah hadir dalam setiap lapisan, perlu untuk distandarisasi agar pelaksanaannya menjadi teratur dan tidak timpang. Termasuk urusan menjaga nama baik ini. Walaupun saya bukan ahli religi ajaran manapun, saya yakin, fitnah bukanlah hal yang benar dalam kitab agama ataupun spiritual apapun. Fitnah tidak sekedar menuding sesama, namun juga berarti perkataan yang tidak jujur.

Akan tetapi, apakah itu berarti tidak ada ruang untuk berpendapat? Masih adakah tempat bagi setiap dari kita untuk mengadu, mengeluh dan mempertanyakan? Bukankah ini merupakan salah satu perwujudan hak asasi yang dicantumkan dalam The Universal Declaration of Human Rights pada tahun 1948?

Pasal 19

Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hak ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas (wilayah).

(more…)

Read Full Post »

Older Posts »