Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘community’

Berhubung sedang ramai pembahasan mengenai dunia perojekan, saya sebagai pengguna ojek jadi tergugah untuk ikut berkomentar. Terima kasih karena jadi lepas dari hiatus.

Ojek, menurut saya, sudah menjadi transportasi andalan ditengah kemacetan dan keruwetan hidup di Jakarta. Urusan waktu dan biaya lebih terprediksi dibandingkan transportasi lainnya. Pengemudi ojek mandiri berjasa besar bagi seorang ibu bekerja seperti saya. Oh ya, saya menyebutnya ojek mandiri untuk membedakan dengan pengojek dengan aplikasi ternama tersebut; karena berinisiatif mencari tahu jalan, rute, pelanggan dan bahkan menentukan harga secara mandiri tanpa bantuan aplikasi.

Saya juga menggunakan aplikasi ternama tersebut, termasuk yang memanfaatkan voucher dan promo antar makanannya. Senang? Tentu saja, persaingan yang kompetitif selalu lebih menguntungkan bagi konsumen. Selain itu, saya senang karena aplikasi ternama ini tidak meniadakan yang “tradisional” seperti gerai ritel yang sedikit banyak mematikan “gerai tradisional”.

Tetapi semakin dipikir-pikir, saya ternyata memang paling senang dengan jasa antar makanannya. Dasar gembul!

Diantara dua pilihan?

Tidak perlu bingung di antara dua pilihan karena memang bukan untuk dipilih. Tak apa saya disebut oportunis, tetapi memang saya menggunakan keduanya dalam kesempatan yang berbeda.

Maksud tulisan saya ini adalah karena adanya keinginan memberikan sedikit perspektif mengenai pengojek mandiri ini. Tentu saja, kekerasan memang salah, tidak ada ruang sama sekali untuk membenarkan hal tersebut! Tetapi mencaci-maki mereka juga tidak bisa dibenarkan. Jadi, saya hanya ingin berbagi hasil perbincangan saya dengan beberapa pengemudi ojek supaya lebih seimbang dalam memahami situasi dan kondisinya.

Seringkali kita ternganga mendengar harga yang diajukan pengemudi ojek mandiri. Membingungkannya lagi, ketika jarak dekat, malah hitungannya menjadi lebih mahal daripada yang jarak jauh. Bahkan, entah sama atau bisa lebih mahal daripada argo taksi meteran.

Kesal? Merasa dibohongi?
Pastinya ya, lumrah sekali.

Tetapi lantas pernahkah bertanya mengapa demikian?

Alasan pertama adalah pengojek mandiri ini memiliki kantor yang spesifik, pangkalannya ya di lokasi yang sama terus. Ketika harus mengantarkan konsumen, maka beliau harus kembali ke pangkalannya lagi. Berarti, perhitungan pengojek mandiri ini harus rute bolak-balik. Saya pernah bertanya, mengapa tidak “mengambil” dari lokasi yang dekat dari tujuan konsumen tersebut saja? Jawabannya selalu sama, tidak enak dengan pengojek mandiri lainnya. Itu sudah rejeki mereka. Jadi ibu-bapak-saudara-saudari sekalian, bahkan ada norma bersama dan etika kerja di antara para pengojek mandiri ini!

Kedua, terkait dengan alasan pertama, karena harus kembali ke pangkalan maka antrian harus dimulai lagi.
Pernah menghitung berapa banyak di setiap pangkalan? Seingat saya, rata-rata dijawab sekitar 8 orang per pangkalan.
Lalu, coba bayangkan, berapa banyak pangkalan di setiap sudut kota Jakarta ini? Walaupun kadang entah bagaimana bisa sama sekali tidak ada, saya yakin kalau titik pangkalan pengojek mandiri ini ebih banyak daripada gerai ritel yang tadi saya sebutkan di awal. Nah, tidak mengherankan jika kita sering melihat pengojek mandiri ini duduk sambil ngobrol satu sama lainnya, membaca koran dan bahkan main catur. Jam sibuknya mereka mengikuti jadwal berangkat dan pulang para pekerja maupun anak sekolah. Dikaitkan dengan biaya, bisa donk ya diasosiasikan mengapa argo ojek mandiri bisa “sesuatu banget”.

Ketiga, ini yang cukup mencengangkan termasuk bagi saya. Setidaknya di satu pangkalan di kawasan elit Jakarta, pengojek mandiri ini mengaku bahwa tempat mereka itu di-per-jual-beli-kan”!

Iya, di-per-jual-beli-kan. Pangkalan yang saya sering sambangi itu, nilainyanya di kisaran 2 atau 3 juta rupiah!

Biaya “uang pangkal” ini memang dibayarkan sekali, dari calon anggota kepada anggota pangkalan terkait yang ingin pindahan. Pasti jadi bertanya kan, mengapa calon anggota tersebut berkenan mengeluarkan dana sebesar itu? Disinilah mitos “posisi menentukan prestasi” dan “feng shui” terbukti.

Lokasi tersebut ramai dan perputarannya cukup tinggi. Menurut narasumber, break event point uang pangkal ini paling lama satu tahun. Luar biasa bukan?

Pertanyaan lanjutannya, mengapa harus pakai “uang pangkal” segala? Kembali ke alasan pertama. Setiap pangkalan sudah ada komitmen bersama, termasuk berapa jumlah anggotanya. Berbeda dengan industri multi-level marketing, tidak ada member get member kecuali ada yang harus pindah dan mengundurkan diri.

Jadi bapak-ibu-saudara-saudari sekalian, jika wiraswastawan (saya sebenarnya agak bertanya-tanya kenapa tidak ada pengojek perempuan) ojek mandiri ini meminta biaya yang cukup tinggi atau setara dengan argo taksi; jangan lupa mengingat tiga hal di atas ya.

Bukan berarti tidak ditawar, tetapi ya yang wajar.
Jangan pula langsung menuduh mereka mencari untung setinggi-tingginya. Jika benar demikian, seharusnya pengojek mandiri sudah paling tidak menjadi jutawan.

Lagian, kalau memang pengguna ojek sejati pasti sudah tahu kok kisaran harganya 🙂

Kalau tetap lebih mahal?
Pilihan ada di tangan Anda. Memilih menawar lagi, ikut beramal atau ya langsung buka telepon pintar untuk menggunakan aplikasi tadi.

Dikasi pilihan kok malah bingung?

Read Full Post »

Last weekend, I went to the Abbotsford Convent in Melbourne. It was not for any religious intention or other important things. It was ‘only’ a part of my sightseeing. I’ve heard that it is a historical site and has a unique restaurant. I was lucky as on that day, there was a farmers’ market where I could buy many fresh products.

With respects to other interesting things, I am fond with the restaurant. Lentil as Anything, the LAA. It has uniqueness in lot of aspects. As describes in its website, it is a vegetarian restaurant that is run as a not-for-profit community organization. The customers are not only able to eat as much as they want, but they also have the privilege to pay as much as they can to afford. The money should be put into a treasure box by the customers themselves. The customers are even able to eat in and/or take away the food.  They can stay as long as they want. So, it has more privileges than the all-you-can-eat restaurants.

Even though it is a not-for-profit restaurant without definite fees, it does not mean that the food varieties are limited. The menu has changed for different meals, at least for breakfast and lunch. At least, there were 6 different menus for breakfast and 10 for lunch. There were also home-made cakes. There also ‘standard’ drinks like water, coffee, tea and juice. It has different types of cuisine for different days. As long as I remember the Wednesdays are for the African cuisine, and Saturday for Srilangkan.

The most interesting part is how it has been managed. It runs with the help from many volunteers. Has gained supports not only from individuals’ commitments but also from companies and organizations, and even the local government body. These supports have enabled the restaurant to have five ‘branches’ in Melbourne. I think this fact is amazing. They do not only able to handle the financial challenges [due to pay as you want] and quite extensive supports, but also able to spread the ‘virus’ out.

The individual volunteers have different backgrounds. There were people who ‘just’ love to be involved in social works, or those who have to ‘shape’ their resumes with voluntary works. But there were also those who really want to pay it forward or ‘pay their debts’. From the website, the LAA wants to help those in need. Not only for food, but also those who need social supports.

It provides a place for over a hundred new migrants, refugees, people with disabilities and long-term unemployed to build confidence, gain skills and receive assistance with access to legal, health, housing and education services. In addition to running the sites, we provide crisis accommodation, English tutoring, counselling services, legal advice, homework assistance, and driving lessons.

Even if we have not read that descriptions, we can see how hard the lives of those who were there. As examples, there was a young lady and mid-aged couples who seem have difficulties to smile. There were other volunteers, who smiled and laughed. Yet, the gloomy and sadness were still there. I believe that face is like a canvas, and the person has painted her/his past experiences. Indeed, the past would not directly foretell the future. Fate is in our hands, with GOD’s grace. But the role of the past could not be denied. I have no idea how to define how I have sensed that way. Maybe it likes how we can differentiate the never-been-poor from the never-been-rich people, even if they dress in exactly the same way.

Greater than that, I admire the solidarity amongst them. Even if they ‘work’ for different reasons, they have the same goal. They are not only support one another, but have created a community, a social circle. It might be too early to claimed the LAA as a proof of succeeded community development, I believe that it can be an example for how great the impacts of social support is. The LAA has initiated the community engagements.

To give hope to the hopeless.

(more…)

Read Full Post »