Dua minggu yang lalu adalah 81 tahun Sumpah Pemuda [dan Pemudi]. Saat itu, mereka mengucapkan janji setia terhadap negeri ini. Ikrar bahwa bangsa ini harus bersatu. Ikrar bahwa walau perbedaan itu ada, dua persamaan tetap ada. Satu tanah air dan satu bangsa. Selanjutnya, diwujudkan dengan memiliki bahasa persatuan.
Tujuh belas tahun setelahnya, Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Apakah artinya negara ini merdeka setelah ‘dianggap’ dewasa dalam mempersatukan perbedaan yang ada?! Bahwa persatuan itu tidak berarti harus satu warna, namun dengan berbagai warna, mencapai suatu harmoni? Mengingat, perjuangan kemerdekaan tidak terpusat di satu titik saja. Setiap daerah, dengan pimpinan tokoh setempat, dengan kearifan budaya setempat, dengan persatuan diantara warga set
empat tanpa mempertanyakan asal muasal, bersama-sama berjuang melawan penjajahan.
Semuanya bergerak demi tujuan yang satu, bukan ’seragam’ yang sama.

Bung Tomo oleh Alex Mendur
Proklamasi kemerdekaan tidak menyebabkan para penjajah menyerah begitu saja. Mereka memperjuangkan apa yang dianggap menjadi hak miliknya. Salah satu akibatnya, terjadilah pertempuran 10 November. Singkat cerita, pertempuran ini merupakan perlawanan melawan kolonial Belanda yang menumpang tentara sekutu untuk kembali menguasai Indonesia. Entah atas nama harga diri atau memang negara ini terlalu kaya. Jelas tindakan mereka mengancam kredibilitas bangsa. Oleh karenanya, sekali lagi, pemudi-pemuda [dan rekan] berjuang mempertahankan kedaulatan. Intervensi ini berhasil membuat perbedaan pendapat mengenai status kemerdekaan Indonesia di kancah internasional, saya membaca di sebuah museum di Australia yang menyatakan Indonesia merdeka pada tahun 1949. Apapun, intervensi ini ‘menghasilkan’ perjuangan yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawa nuntuk mengenang persatuan Rakyat Indonesia, setidaknya di Surabaya.
Dua puluh satu tahun setelahnya, 1966, terjadilah perlawanan terhadap otoriterisme. Sungguh disayangkan, terutama mengingat beliau termasuk tokoh pejuang kemerdekaan, pendiri dan bahkan berperan penting dalam memperkenalkan bangsa baru ini ke dunia. Saya kurang paham sebenarnya mengapa seorang pejuang yang membenci penjajahan berubah menjadi sosok yang berpotensi ‘menjajah’. Entah benar atau tidak, setidaknya begitulah yang dipersepsikan oleh pelajaran sejarah. Sungguh saya tidak mengerti alasan dibalik tindakan beliau ini, termasuk ‘kisah akhir’ kepemimpinannya yang kronologisnya tidak terlalu jelas.
Setelahnya, pembangunan terjadi secara simultan. Gedung-gedung pencakar langit nan megah hadir di kota-kota besar.Sayangnya, pembangunan ini terpusat dan tanpa sistem tata kota yang baik. Entah bagaimana, pemimpin bangsa ini terjerat hal serupa dengan pendahulunya. Penjajahan kembali muncul dalam tampilan baru. Eksistensi rakyat tidak lebih dari sekedar pion catur, tergantung pada perintah [yang merasa] grandmaster. Sejarah pun kembali terulang. Tokoh otoriter digulingkan oleh kekuatan rakyat setelah 32 tahun. Reformasi pun terjadi.
Hari ini, lebih dari 11 tahun setelah reformasi dimulai, keadaan tidak jauh berbeda. Ancaman baru pun muncul. Media massa tanpa henti memberitakan kisah epik antar institusi di negeri ini, yang semakin mendekati kisah drama. Tak sekedar disisipi kejutan dan ‘kejutan’, muncul pula panggung untuk atraksi hewan. Entah pihak mana yang harus tersinggung, sang manusia yang dianimalisasikan, atau sang hewan yang dipersonifikasikan secara negatif.
Saya yang sempat puasa membaca berita merasa kewalahan untuk mengikuti berita. Disertai keherananmengapa media massa tidak lagi menggunakan akronim dalam pemberitaannya, walaupun terkait urusan legal. Terlebih lagi, mengapa semakin lama diikuti, semakin dicerna, semakin bingunglah saya. Bukankah seharusnya semakin lama semakin jelas duduk perkaranya? Mengapa kali ini tidak? Kebenaran yang seharusnya mutlak di mata hukum, dipertanyakan. Tidak-selarasnya pendapat dan kesaksian dengan fakta, atau bahkan ketika fakta telah berbicara namun keputusan tak kunjung tiba. Lantas, siapakah yang harus kita percayai? Siapakah yang benar? Atau adakah yang benar? Ketidakjelasan ini menjadi ancaman akan bertambahnya tugas anak negeri untuk mengusut kasus-kasus tak terselesaikan yang nyaris [atau sengaja?] dilupakan.
Mungkin inilah hiperalitas yang dimaksudkan oleh Jean Baudrillard. Suatu keadaan dimana kenyataan tidak lagi mampu dibedakan dengan fantasi dimana media berperan besar dalam membuat pemahaman dan opini publik. Penjelasan paling mudah adalah: ‘konspirasi’.

tidak seperti yang terlihat
Terlepas dari apakah saya mengecilkan pemahaman terhadap hiperealitas, idiom ini melegakan bagi saya. Ketidakmampuan saya dalam mencerna siapa yang sebenarnya-benarnya benar, atau benar-benar salahkah mereka mengingat politik kambing hitam seringkali digunakan. Keterbatasan saya memahami bagaimana seharusnya perangkat hukum digunakan, bagaimana forum pengadilan dan berbagai hal terkait dijalankan. Seringkali saya kecele, ketika saya menilai salah ternyata benar dan sebaliknya yang dikira benar ternyata salah. Mungkinkah keadilan yang dipersonifikasikan dengan ratu adil telah berubah. Tidak lagi dengan mata tertutup sebagai simbol objektivitas atau tidak lagi imbangnya neraca yang dibawa.
Hal-hal inilah yang membuat saya memerlukan idiom hiperealitas tersebut. Bahwa memang seharusnya merasa heran, bahkan dibenarkan. Bahwa pemikiran lebih lanjut mengenai apa yang sebenarnya terjadi memang harus dilakukan, bukan karena fobia ataupun simpati berlebihan, namun memang demikian adanya.
Semoga, di Hari Pahlawan yang ke 64 ini, bangsa ini tidak hanya sekedar mengulang rutinitas. Tidak sekedar memperpanjang daftar pahlawan nasional, tidak sekedar melakukan upacara atau selametan. Tapi lebih penting lagi, untuk tetap menjaga semangat para pahlawan tersebut. Semangat untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Semangat yang disertai kesadaran bahwa tujuan itu tidak akan tercapai tanpa adanya persatuan. Semangat untuk terbebas dari segala jenis penjajahan, termasuk ancaman hiperealitas.
Semoga, tidak perlu menunggu reformasi berusia 17 tahun [apalagi 32 tahun] untuk dapat mencapai reformasi yang sebenarnya.
“You can fool some of the people all of the time, and all of the people some of the time, but you can not fool all of the people all of the time” (Abraham Lincoln).






Wuih aku dapet kata baru ‘hiperalitas’..:)
tp di akhirnya bagaimana menghadapi ancaman hiperalitas itu ancilla? Apakah hanya dlm bidang politik saja ancamannya? Atau bisa merambah ke yg lain?
iya, terima kasih ke Bpk. Yasraf…
saya juga belum terpikirkan bagaimana ya, menurut saya kesadaran akan adanya ancaman tersebut merupakan langkah penting.
mengenai akibatnya, tentu luas. secara politik sering disebut sebagai sosio-politik. kebenaran yang tidak pasti, tentu berbahaya dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan-kebijakan nasional maupun internasional. nah silahkan dilanjutkan sendiri
Mantapz Cilla, akhirnya saya juga mendapat kosa kata baru hehehe.
Tapi yang kamu tulis membuat saya sempat bergidik, kalo polanya dari seorang ‘pahlawan’ menjadi yang harus ‘dilengserkan’ dan kalo sejarah terus kembali menjadi seperti itu …. Mmmmmh ‘tanya kenapa’ ya???
Btw, kartunnya Peanuts itu lucu, konsep hiperrealitas ya? (saya bingung nulis yang benar itu ‘hiperrealitas’, ‘hiperealitas, atau ‘hiperalitas’???)
(dari yang lagi sibuk menyelesaikan essay di Canbee)
kalau menilik dari daftar pahlawan nasional si tidak harus dilengserkan ya. sejauh ini masih banyak tokoh pahlawan yang berperang. ah satu hal lagi, pemahaman bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa tampaknya harus ditilik lebih lanjut. apabila pendidikan memang jawaban utama dari segala permasalah sosial, mengapa nara sumbernya harus tidak diberikan tanda jasa?
mengenai terjemahan tepat dari hyperreality itu memang membingungkan. saya sempat mengutik-ngutik, tapi entahlah.
*syukulah dirimu mengidentifikasikan diri. kalau tidak saya bertanya-tanya. hehe… gudlak!
Maaf saya salah nulis bukan * hiperelitas tp ‘hiperealitas’ kurang *a ..:)
Maklum kata baru, ga terbiasa nulisnya (cuma alasan, wakaka)
Ancilla tulisan2mu ok banget, hayo produktif dong, klo bisa sebulan 5 tulisan.. Hihihi (jgn marah yah)
sebulan 5 tulisan jul?
hmph… saya saja yang berusaha dua minggu sekali menulis masih gagal begini….
Fiksi dan realitas..wah..kenyataan dan dongeng ya.. kudoakan fiksinya bagus dan bisa terealisasi ya.. Amin..
ah menurut saya, khayalan dan impian dalam konteks harapan bukanlah fiksi… tapi baiklah, saya amin-i doa tersebut… :p
Ah, another nice one cil… not bad kok, easy to read n berbobot… apa ya yg bkn lo ga puas? huehehehe….
saya saja kadang terjebak pada hiperealitas hidup pribadi…
waktu2 semacam ini kadang tak ada bedanya antara impian dan realita
tak kunjung bisa menepis yg di awang-awang, krn itulah harapan
tak bisa jg membedakan antara kenyataan dan tujuan jangka panjang
suatu konspirasi terjadi kadang tanpa pikir, seringkali mgkn hy keinginan semata…
_ah, maaf kok jadi berpuitis-ria_ krn selain berfungsi mengomentari ( yg mgkn krg sinkron dg isi artikel lo) dan jg sedikit katarsis_
Bersyukurlah (kita) yang masi bs membedakan realita dari yg hiperealita atau non realita yg lain…
entah juga ‘la. terasa begitu saja. kurang bagaimana gitu… ada ide?
hmph, hiperealitas pribadi ya. menarik juga. apakah idealisme termasuk didalamnya? kenapa mengarah ke filosofis ya? tapi menarik buat ditelusuri ‘la. ada ide?
mengapa konspirasi terjadi hanya dalam kerangka pola pikir semata? seringkali itu sudah diterapkan dalam kenyataan. sungguh, saya tidak bisa membedakan siapa yang benar dan salah dalam kisah-kisah terakhir ini. bahkan siaran reality show pun dipertanyakan…
karena realita atau bukan, semuanya itu dibentuk sama media. kita kadang2 dikasi tau yg bener, kadang diboongin
berarti para jurnalis tersebut memiliki tanggungjawab sosial donk
trims untuk berbagi ya…..
@Dayanara: bahasa asli kan hiperreality, mungkin oleh pa Yasraf “diindonesiakan” jadi hiperealitas (?).
kalau saya sih, memperjuangkan apa yang sudah diperjuangkan pahlawan kita jaman dulu macem bung tomo itu hukumnya wajib.
ibaratnya kita dah utang nyawa ama mereka. lantas apa ? mau menikmatinya gitu aja. leyeh leyeh ? santai ? korupsi ? mengisi perut kita sendiri tanpa lihat kanan kiri. perjuangan bukan hanya mengusir penjajah dari negeri ini, tapi bagaimana juga membangun negeri ini.
selamat hari pahlawan. tetep nasionalis. jangan takut mati. karena kitalah rakyat yang memegang peranan penting negeri ini. karena kitalah pemuda pemuda bangsa yang menentukan masa depan. bukan mereka para aparat juga bukan mereka para pejabat. kalau kita bilang bubar ya pasti akan bubar. SEMANGAT !!!
terimakasih anda mau berbagi ilmunya mas
INFO MOBIL | INFO ALAT KOMPUTER | INFO ASURANSI | TOKO KOMPUTER