Untuk ke-sekian kalinya, Indonesia menangis.
Setidaknya, 1,100 rakyat negeri ini meninggal dunia secara tragis. Belum lagi mereka yang masih tidak ditemukan, tertimbun di reruntuhan bangunan. Tidak terhitung berapa banyak kerugian yang dialami…
Dapat dibayangkan, betapa banyak yang berduka karenanya. Dengan adanya 1,100 yang meninggal dunia, setidaknya ada 2,200 orang tua yang berduka, 4,400 kakek-nenek yang berduka. Belum lagi kakak-beradik, sepupu, teman, rekan kerja, dan seterusnya. Angka tersebut sangat mungkin akan menjadi perhitungan tak berhingga.
‘Ancaman’ akan perasaan depresi pun terjadi pada para pekerja sosial yang langsung mendatangi tempat kejadian. Para pekerja ini tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Betapa mereka sangat rentan terhadap perasaan depresi dan tidak berdaya. Bila perhitungan tadi diteruskan, akan sampai pada sanak-saudara-rekan dari para pekerja sosial ini. Bagaimana mereka merasa cemas dan khawatir terhadap keberadaan mereka yang ingin membantu ini.
Hal yang sama juga terjadi pada para jurnalis dan reporter. Mereka datang dari berbagai tempat untuk meliput. Bagaimana, kadang, mereka harus melawan hati nurani mereka untuk tetap merekam demi kepentingan korporat dan bukannya langsung bergerak untuk membantu. Jelas, mereka juga rentan terhadap kegalauan yang dapat mengganggu kesehatan psikologis mereka.
Data yang dicantumkan pun praktis merupakan perkiraan saja. Angka 1,100 itu pun telah saya ketahui sejak dua hari lalu, dan hingga kini belum ada perubahan. Apakah itu artinya belum ada pendataan kembali? Yah tak mengapa, dapat dipahami karena memang lebih penting untuk melakukan tindakan penyelamatan. Walaupun menurut saya pendataan itu penting, karena tanpa ada pendataan, akan sangat membingungkan dalam usaha penyaluran bantuan baik tenaga seperti tenaga medis maupun materiil seperti makanan.
Angka yang disebutkan pun hanyalah mencakup korban di Padang, tidak termasuk banjir di Mandailing yang terjadi sebelumnya, atau gempa di Jambi yang terjadi sesudahnya. Terlepas dari rasa ingin tahu saya pribadi mengenai kenapa tidak ada berita yang memadai mengenai dua bencana ini, hal-hal ini menunjukkan betapa pedihnya duka bangsa ini …
Sayangnya, entah mengapa, di setiap bencana selalu ada kejadian yang menurut saya tidak pantas terjadi.
Saat ini, berdasarkan cerita dari saudara yang berada di Padang, penjarahan mulai terjadi. Memanfaatkan situasi yang praktis tidak terkendali, sistem hukum yang dapat dikatakan sedang lumpuh. Iya kalau memang yang dijarah itu adalah makanan dan minuman, bagaimana kalau itu komputer seperti yang dipertanyakan oleh seorang rekan di facebook? Entah seberapa jauh kejadian ini sudah terjadi. Memang, bisa saja hal ini sekedar gosip belaka, bisa saja hanya sekedar tiupan angin yang tidak berdasarkan fakta, atau tidak seheboh perkiraan misalnya hanya ada satu-dua orang yang melakukannya. Apapun itu, hal-hal seperti ini tentu menambah kekhawatiran. Masyarakat yang masih berada di daerah-daerah tersebut tidak hanya harus waspada terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi, namun juga keamanan diri dan barang-barang yang mereka miliki [yang tentunya benar-benar semakin tidak seberapa itu]. Mereka tidak hanya berduka karena kehilangan sanak-saudara dan/atau rekan sejawat, tidak hanya bersedih karena kehilangan harta-benda, namun juga harus khawatir akan nasib mereka ke depannya. Tidak hanya khawatir terhadap apakah aka nada bantuan namun juga apakah mereka akan aman.
Perasaan tidak tentram ini pun tidak selesai disitu saja. Seorang pejabat MUI memberikan komentar, yang menurut saya, sungguh tidak tepat:
Namun, musibah gempa itu juga bisa berarti peringatan karena banyaknya maksiat atau perilaku masyarakat yang bertentangan dengan ketentuan agama. Untuk itu, selain bersabar, warga Sumbar yang mengalami musibah gempa tersebut juga harus banyak memohon ampun kepada Allah SWT karena mungkin banyak melakukan kesalahan [Kompas, 01 Oktober 2009].
Terlepas dari apakah memang Tuhan menghukum manusia atau memberikan peringatan kepada manusia [karena saya hanyalah ciptaan-NYA], saya rasa adalah tidak bijak untuk menyalahkan bencana kepada para korban?!! Apakah penderitaan mereka tidak cukup?!! Apakah mereka harus lagi dibebani dengan penghakiman bahwa mereka telah berdosa berat??!!!
Apabila kita memiliki waktu lebih untuk melihat lebih dekat dan rasional, ini merupakan bencana alam. Dan jelas, bencana alam sulit diprediksi kapan terjadinya. Akan tetapi, bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa lokasi Indonesia memang rentan terhadap ancaman ini? Bukankah memang sudah diketahui bahwa Indonesia terletak di lempengan ini dan itu, patahan a-b-c dan seterusnya?
Apabila memang, manusia belum mampu [karena mungkin akan ada sistem peringatan yang lebih baik suatu saat nanti], bukankah manusia mampu berbuat sesuatu untuk mengantisipasi?
Danny Hilman Natawijaya, pakar geologi dari Pusat Geoteknologi LIPI menyebutkan bahwa yang berbahaya bukanlah gempa itu sendiri. Gempa itu, praktis tidak memakan korban.
‘Jatuhnya korban karena gempa bumi sebetulnya lebih karena sikap dan ulah manusia daripada alam’ [Kompas, 02 Oktober 2009]
Beliau mengatakan bahwa salah satu yang dapat dilakukan adalah melakukan pembenahan terhadap konstruksi bangunan. Konstruksi bangunan yang lebih aman tentu sangatlah penting, mengingat banyaknya korban jiwa disebabkan oleh reruntuhan bangunan.
Selain itu, yang menurut saya juga penting dalam sistem tanggap bencana adalah pemahaman akan kerawanan dan ancaman yang ada. Berdasarkan pengalaman pribadi, ketika gempa hebat terjadi, seorang rekan pernah terkilir kakinya ketika harus bergegas turun ke lantai dasar melalui tangga. Atau bagaimana, ketika terjadi gempa ternyata banyak yang memilih menggunakan lift. Semuanya ini menunjukkan bahwa pemahaman akan bencana alam itu penting. Sangat diperlukan adanya suatu penyuluhan yang membantu kewaspadaan terhadap gempa.
Untuk dapat melakukan penyuluhan yang tepat guna, jelas peranan pemerintah sangat diperlukan. Seperti yang disebutkan oleh Subandono Diposaptono [Kompas, 02 Oktober 2009]. Kejelasan akan pemahaman tentu akan sangat penting, mengingat selama ini masyarakat sibuk mencari informasi sendiri sehingga seringkali terjadi ke-simpang-siur-an terhadap bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi gempa.
Selain itu, tampaknya kepentingan akan sistem tanggap bencana yang memadai belumlah menjadi prioritas negara ini. Setelah tsunami di Aceh pada tahun 2004, tampaknya negara ini masih belum juga memiliki kejelasan akan sistem tanggap bencana yang jelas dan efektif. Beberapa saat yang lalu SBS [salah satu media di Australia – televisi dan radio] menyebutkan bahwa telah banya bantuan yang tiba di Padang, akan tetapi banyak pula yang mengalami kebingungan dalam distribusinya. Jelas, bahwa ini berarti risiko ketimpangan dalam distribusi bantuan sangat mungkin terjadi. Ditambahkan pula, bahwa bantuan di daerah-daerah pun masih sangat minim, termasuk desa yang hanya beberapa jam dari kota Padang.
Belum lagi, berita yang saya peroleh dari kerabat di Padang. Bahwa ada daerah-daerah yang baru memperoleh bantuan pagi ini. Bantuan ini pun banyak yang sifatnya swasembada dalam artian dari mereka yang kebetulan masih memiliki ini dan itu termasuk tenaga untuk membantu tetangga-tetangganya. Atau bantuan dari sanak-saudara dari masyarakat setempat. Keadaan ini terutama terjadi di daerah yang tidak disorot oleh media massa, termasuk daerah yang berada jauh dari kota ataupun daerah dimana banyak kaum minoritas bermukim.
Dengan demikian, jelas bahwa sistem yang efektif sangatlah dibutuhkan. Peranan aktif dari pemerintah diperlukan. Jepang, contohnya, sejak lama telah melakukan tindakan antisipatif. Tidak hanya mengenai sistem konstruksi bangunan dan penyuluhan sejak dini, namun juga dari segi politis. Mereka tidak menggunakan ‘event’ bencana sebagai kendaraan politis dalam masa kampanye seperti yang terjadi pada ‘bencana’ Situ Gintung seperti yang saya sebutkan dalam ‘politisasi memori’. Hanya memberikan bantuan sekejap disertai berbagai pidato dan foto di media massa. Mereka menempatkan ‘tanggap bencana’ sebagai tanggung-jawab dari pemerintah dalam menjalankan tugasnya, seperti yang dikatakan oleh Jonatan Lassa di Kompas, 02 Oktober 2009.
Mungkin sudah saatnya bangsa ini sadar untuk dapat membedakan antara apa yang menjadi ranah agama dan spiritualitas, dan mana yang termasuk ranah logika dan good governance. Pasrah pada Tuhan itu penting, mengingat manusia memiliki berbagai keterbatasan. Namun pasrah tidak berarti hanya duduk diam, menunggu mukjizat datang.
Memang, menyerahkan semuanya kepada pemerintah juga tidaklah bijak. Mengingat mereka juga memiliki keterbatasan dengan berbagai hal yang harus dipikirkan. Akan tetapi, menyerahkan kepada rakyat jauh lebih tidak bijak mengingat rakyat yang membiayai kehidupan para pejabat hingga mencapai ratusan [atau ribuan] kali dari gaji mereka sendiri. Bukankah itu memang tujuannya ada pejabat? Mengurusi rakyatnya??!!
Akhir kata, jelas bahwa kapasitas otak manusia belum mampu menebak kapan dan bagaimana terjadinya sebuah bencana. Namun jelas, bahwa manusia lebih dari sekedar mampu untuk melakukan tindakan antisipasi…
Bangun dan jadilah sadar!!







mungkin sby perlu mempertimangkan adanya kementerian penanggulangan bencana, mengingat indonesia masuk dalam “Ring of Fire”. Tentunya ide ini hanya sia sia saja kalau memperbanyak kursi menteri hanya utk politik dagang sapi…
Banyak yang bisa dilakukan oleh kementerian seperti ini kalau tidak ada bencana: misalnya pendidikan tanggap darurat, manajemen bencana, koordinasi dengan instansi pemerintah, militer, polisi. memastikan alat alat early warning terpasang dengan benar. Untuk yang terakhir, saya mendengar dari seorang kawan aktivis LSM, bahwa di Tasikmalaya ada alat early warning yang tidak tertancap ke listrik sehingga tidak berfungsi saat terjadi bencana. sungguh memilukan keadaan negeri kita ini..
Ia Pak, kalau sekedar menambah banyak duit rakyat yang ‘terbuang’ untuk membiayai pejabat, mending ga usa d…
Wah saya baru tahu kejadian Tasikmalaya begitu. Sama seperti ketika saya mendengar kabar bahwa ada pencurian terhadap perangkat detektor tsunami, saya lupa apanya.
Saya yakin, dengan sekian banyak rakyat di negara ini, pasti mampu untuk melakukan sesuatu baik preventif maupun antisipatif. Pasti bisa, andaikata memang mau…
Cilla… gw koment di notes fb ajaah yaa… lebih ruameee hihihi….
baiklah
waktu ada penyelaman yang masuk rekor muri lalu oleh peneliti kita dan jepang, beberapa festifal joged bumi kemarin sudah bisa diprediksi. tetapi balik ke kita kan. kita concern masalah ini gak. kalo dinilai nggak ya udah kenapa nggak kita mulai dengan diri kita saja sendiri, seperti co/ back to nature, safe living dan tak kalah penting mengerti benar bab evakuasi di tingkat keluarga. simpel kan?
ga enak baca tulisanmu kalo ga pake english mba.. :p
betul, saya rasa seharusnya teknologi yang ada sudah mampu meng-identifikasi gejala-gejala alam. walau tentu tidak berarti meramalkan, waktu TKP bencana alam. paling mudah saja, jelas bahaya banjir selalu menghadang JKT ketika musim hujan datang. berarti kan sebelum musim itu datang, tindakan antisipasi seharusnya dilakukan.
kalau soal pendidikan evakuasi, atau waspada bencana, rasanya tidak bisa dibilang simple juga si ya. itu termasuk pendidikan yang bertujuan mengubah pola perilaku. jelas, butuh waktu. namun lebih jelas lagi, harus dilakukan segera dan komprehensif… hehehe…
*iyakah? kenapa lebih enak yang inggris?*